STEREOKIMIA 2
A. Konfigurasi Mutlak dan Konfigurasi Relatif
ü Penetapan Konfigurasi sistem R dan sistem S
Urutan penataan keempat gugus atom sekitar atom karbon kiral disebut konfigurasi mutlak disekitar atom tersebut. Sepasang enantiomer mempunyai konfigurasi yang berlawanan. Misalnya (+)gliseraldehida dan (-)gliseraldehida yang mempunyai konfigurasi yang berlawanan. Tetai formula mana yang dektro dan mana yang levo? Sampai tahun 1951 ahli kimia belum mengetahui hal tersebut. Sebelumnya baru diketahui bahwa (+) gliseraldehide dan asam (-)gliserat(asam 2,3-dihidoksipropanoat) mempunyai konfigurasi sama di sekitar karbon 2meskipun sudut putarnya berlawanan.
Agar rumus-rumus itu mdah dikerjakan maka pada akhir abad 19 diputuskan pengandaian bahwa (+) gliserahdehide mempunyai konfigurasi mutlak dengan OH pada karbon 2 di kanan. Arah pemutaran bidang polarisasi cahaya oleh suatu enantiomer adalah suatu sifat fisika. Konfigurasi mutlak suatu enantiomer adalah khas struktur molekulnya. Tak terdapat hubungan sederhana antara konfigurasi mutlak suatu enantiomer tertentu dan arah perputaran bidang polarisasi cahaya olehnya. Seperti telah dikatakan diatas enantiomer asam gliserat yang konfigurasinya mutlak sama dengan konfigurasi (+)gliseraldehida adalah levorotatori bukan dektrorotatori.
Sistem itu adalah sistem (R) dan (S) atau sistem Chan_Ingold-Prelog. Huruf (R) berasal dari kata latin rectus (kanan) sedangkan (S) dari kata Sinister(kiri). Atom kiral apa saja mempunyai konfigurasi (R) atau konfigurasi(S) oleh karena itu satu enantiomer adalah (R) dan enantiomer lain (S). Suatu campuran resemik ditandai dengan (R)(S) yang berarti suatu campuran dari keduanya.
Perlu beberapa langkah untuk memberikan konfigurasi (R) dan (S) kepada suatu karbon kiral sebagai berikut:
1. Urutkan keempat gugus (atau atom) yang terikat pada karbon kiral itu menurut prioritas aturan deret Chan-Ingold-Prelog
2. Proyeksikan molekul itu sedemikian sehingga gugus yang berprioritas rendah berarah kebelakang
3. Pilih gugus berprioritas tertinggi dan tarik suatu anak panah bengkok ke gugus dengan prioritas tertinggi berikutnya
4. Jika panah ini searah jarum jam,maka konfigurasi itu adalah (R). Jika arah anak panah berlawanan dengan jarum jam maka konfigurasi itu adalah (S)
ü Senyawa kiral
Senyawa Kiral adalah ketika empat ligan yang berbeda terikat kepada karbon tetravalent, menghasilkan molekul asimetris yang mana atom karbon sebagai pusat asimetrisnya. Gambar berikut menunjukkan dua isomer optik yang membuktikan adanya ligan yang berbeda disekitar pusat kiral (Fanali S).
Enantiomer adalah dua stereoisomer yang mana memperlihatkan tidak dapat dihimpitkan terhadap bayangan cerminnya. Diastereomers pada umumnya memiliki paling tidak dua pusat asimetris (satu diantaranya mempunyai konfigurasi yang sama) dan bukan merupakan bayangan cerminnya. Sebagian besar umumnya pusat kiral adalah diwakili oleh karbon tetrahedral, meskipun atom lain, seperti nitrogen, sulfur, dan phosphate, bisa ditemukan dalam stereoisomer. Senyawa yang memiliki sedikitnya dua enantiomer adalah senyawa kiral (Fanali S).
Sifat utama dari stereoisomer adalah diwakili oleh perputaran cahaya terpolarisasi kearah yang berbeda, berlawanan arah jarum jam (levo) dan searah jarum jam (dektro) atau L(-)- isomer dan D(-)- isomer. Menurut ketentuan Fischer, secara luas senyawa gula dan asam amino menggunakan symbol D dan L, dan hal ini berdasarkan pada perbandingan dengan senyawa +(-)-gliseraldehide dan saat ini digunakan juga ketentuan Cahn-Ingold-Prelog menggunakan R da S.
Rotasi optik untuk dua enantiomer dalam campuran rasemik adalah sama (tidak memutar arah cahaya polarisasi). Sementara untuk diastereomer tidak sama dengan enantiomer, diastereomers mungkin memiliki perbedaan titik didih, titik beku dan atau kelarutan (Fanali S).
Pemisahan enantiomer dari rasemat, dengan kata lain pemisahan rasemat, adalah masalah biasa dalam penelitian stereokimia seperti halnya pada preparasi senyawa aktif biologi dalam obat. Masalahnya adalah berbeda dengan diastereomer dan tipe jenis isomer lainnya, enantiomer menunjukkan sifat fisika kimia yang sama (Davankov V.A.).
ü Enantiomer dan molekul kiral
Enantiomer hanya terjadi dengan senyawa-senyawa yang molekulnya kiral. Suatu molekul kiral didefenisikan sebagai molekul yang tidak superimposible (tidak dapat di himpitkan) di atas bayanagn cermin. Pemakaian kata kiral pada molekul dimaksudkan bahwa molekul tersebut mempunyai sifat ketanganan. Tangan kiri mempunyai bayanagn tangan kanan, demikian pila sebaliknya. Tanag kanan merupakan tidak dapat dihimpitkan diatas tanagn kiri (tidak superimposible).
Molekul kiral dapat di perhatikan dengan senyawa yang relative sederhana. Sebagai contoh adalah 2-botanol.
OH
CH3CHCH2CH3
Oleh kareana molekul 2-butanol adlah molekul kiral maka ada molekul 2-butanol yang berdeda dan molekul-molekul tersebut adalah entiomer-entiomer.
Karbon kiral adalah suatu atom karbon yang mengikat empat gugus yang berbeda. Dalam molekul 2-butanol karbon-2 adalah karbon kiral dan empat gugus berbeda yang terikat padanya adalah hidroksil, metal, etil, dan atom hydrogen.
Jika ada dua atau lebih gugus yang sama terikat pada suatu karbon tetrahedral, maka molekul tersebut adalah akiral dan superimposible terhadap bayangan cerminnya. Sebagai contoh adalah molekul 2-propanol.
Berdasarkan uraian di atas maka kita sampai pada kesimpulan yang telah dikemukakan oleh van’t Hoff :
1. Hanya satu senyawa yang ditemukan oleh rumus CH3X
2. Hanya satu senyawa yang ditemukan oleh rumus CH2X2
3. Ada dua senyawa bersifat enantiometrik yang telah ditemukan untuk rumus CHXYZ.
1. Bidang simetri
Cara lain untuk menentukan apakah suatu molekul kiral atau akiral adalah dengan melihat ada atau tidaknya bidang simetri dalam molekul. Bidang simetri adalah suatu bidang khayal yang membagi dua molekul sehingga bagian-bagian tersebut merupakan bayangan cermin antara satu dengan yang lainnya. Jika suatau molekul mempunyai bidang simetri maka molekul tersebut akiral, contohnya 2-kloropropana. Sebaliknya jika suatu molekul tidak memiliki bidang simetri maka molekul tersebut adalah akiral, contohnya 2-klorobutena
1. Proyeksi fisher
Dengan mengunakan Proyeksi Fischer, sistem penggambaran konfigurasi gugus disekitar pusat kiral yang berbeda (susunan ruang atom atau gugus yang menempel pada karbon kiral), yaitu konvensi D dan L. Metode ini banyak digunakan dalam biokimia dan kimia organik terutama untuk karbohidrat dan asam amino. Gliseraldehida ditetapkan sebagai senyawa standar untuk menentukan konfigurasi semua karbohidrat. Proyeksi Fischer terhadap gliseraldehida dengan rantai karbon digambarkan secara vertical, dengan karbon yang paling teroksidasi (aldehid) berada pada bagian paling atas. Gugus OH pada pusat kiral digambarkan pada sisi sebelah kanan untuk isomer D dan sisi sebelah kiri untuk isomer L. Ini berarti setiap gula yang memiliki stereokimia yang sama dengan D-gliseraldehida termasuk gula seri D (misalnya D-glukosa), sedangkan gula yang memiliki stereokimia yang sama dengan L-gliseraldehida termasuk gula seri L.
Situasi ini analog untuk asam amino, jika proyeksi Fischer digambarkan (rantai karbon vertikal dengan atom karbon yang paling teroksidasi berada paling atas), maka semua asam amino “alami” yang ditemukan dalam protein manusia, diketahui memiliki gugus NH3+ pada posisi sebelah kiri proyeksi Fischer, yang sama dengan L-gliseraldehida, sehingga asam-asam amino ini dikenal sebagai asam amino seri L. Hal ini sangat menguntungkan dan bermanfaat dibidang kesehatan, khususnya bidang Farmasi dalam hal rancangan obat dengan uji toksisitas selektif, di mana diketahui asam amino pada mikroorganisme memiliki konfigurasi yang berlawanan yaitu seri D, sebagai contoh Penisillin yang menghambat enzim transpeptidase dalam sintesis dinding sel mikroba, hal ini berhubungan dengan dipeptida D-alanin-D-alanin dari dinding sel mikroba yang mirip dengan struktur penisillin. Sehingga penisilin tidak toksik terhadap manusia yang memiliki L-alanin dalam protein tubuh.
Ada dua cara menentukan bentuk tetrahedral, yaitu dalam tiga dimensi (cara perspektif), dngan dalam rumus dua dimensi (cara proyeksi). Rumus-rumus proyeksi memperlihatkan hanya dua dimensi, dimensi lain dibayangkan tegak lurus bidang kertase. Proyeksi yang luas digunakan karena kesederhanaannya adalah proyeksi fisher
Perjanjian : garis horizontal menyatakan ikatan yang arahnya ke atas bidang kertas (menuju pembaca), dan garis vertical menyatakan yang arahnya kebawa bidang kertas (menjauhi pembaca). Dalam proyeksi fisher, dua rumus
Menyatakan molekul yang sama. Selanjutnya rumus ini kita nyatakan dengan rumus prespektif :
Jika rumus ke dua kita putar 1800 searh jarum jam maka diperoleh rumus pertama.Karena hanya dengan pemutaran salah satu rumus menghasilkan rumus yang kedua, maka kedua rumus benar menyatakan molekul yang sama.
1. Tatanama stereoisomer
Sebelum tahun 1951, konfigurasi molekul kiral yang dikenal adalah konvigurasi relative. Hal ini disebabkan karena pada saat itu belum ada metode yang dapat digunakan untuk menentukan konfigurasi mutlak senyawa yang bersifat aktif optik.
Untuk menggunakan konfigurasi relative suatu molekul kiral, digunakan gliseraldehida sebagai senyawa pembanding.
Molekul gliseraldehida mempunyai satu karbon kiral oleh karenanya mempunyai satu pasang entiomer. Satu enantiomer memuat bidang polarisasi cahaya ke kanan (searah jarum jam), dan dunyatakan sebagai (+)-gliserildehida. Enantiomer yang lain memutar bidang polarisasi ke kiri (bertentangan dengan arah jarum jam), dan enantiomer ini dinyatakan sebagai (+)-gliseraldehida. Dengan proyeksi fisher kedua entiomer ini dinyatakan sebagai berikut
Proyeksi D dan L berasal dari kalahta latin, D (dexter) berarti kanan dan L (leavus), untuk menetukan yang manakah dari kedua proyeksi fisher itu (D dan L) yang memutar bidang polarisasi ke kanan (+) atau ke kiri (-) adalah suatu pekerjaan yang sulit dilakukan pada saat itu. Tidak ada hubungan yang sederhana antara penandaan rotasi (+ atau -) dengann konfigurasi (D dan L). oleh karenanya diambil keputusan secara acak, yaitu konfigurasi D untuk (+)-gliseraldehida dan konfigurasi L untuk (+)-gliseraldehida. Pada tahun 1951 diketahui bahwa pengambilan keputusan ini adalah benar. Akhirnya banyak sekali senyawa yang ditentukan berdasarkan konfigurasi enantiomer gliseraldehida.
Suatu kesulitan yang muncul karena tidak semua senyawa jelas hubungannya dengan gliseraldehida. Untuk senyawa-senyawa
Jelas semuanya adalah D. akan tetapi untuk senyawa seperti berikut :
Tidak jelas apakah D atau L
Masalah tersebut diatas telah diselesaikan oleh orang kimiawi yaitu professor R. S. Chan (inggris), dan V. Prelog (switzerlan). Mereka membuat suatu system tambahan untuk system IUPAC. System ini disebut system R-S atau dikenal dengan system Chan-Ingold dan prelog. Menurut system ini, enantiomer-enantiomer 2-butanol masing-masing dikenal sebagai R-2-botanol. R berasal dari kata rectus yang berarti kanan dan S berasal dari kata sinister yang berarti kiri. Adapun cara penentuan R dan S adalah sebagai berikut :
1. Setiap gugus yang terikat langsung pada atom karbon kiral diberi perioritas-nperioritas sesuai dengan urutan a,b,c, dan d. prioritas didasarkan kepada nomor atom dari atom yang terikat langsung pada karbon kiral. Atom dengan nomor atom paling besar adalah prioritas utama (a) dan paling rendah adalah prioritas terakhir.
2. Jika dua gugus dimana atom-atom yang terikat langsung pada karbon kiral mendapat prioritas yang sama, maka prioritas ditentukan pada perbedaan atom urutan berikutnya.
1. Sekarang kita putar rumus (model) sedemikian sehingga gugus dengan prioritas terendah (d) terarah menjauh dari mata kita
1. Selanjutnya kita putar dari (a) ke (b) ke (c). jika ternyata pemutaran searah dengan arah perputaran jarum jam maka dikatakan bahwa molekul berkonfigurasi R sedangkan jika berlawanan dengan arah jarum jam maka molekul berkonfigurasi S. enantiomer 2-botanol diatas adalah R-2-butanol.
2. Untuk menentukan prioritas gugus-gugus yang mengandung ikatan rangkap dua atau rangkap tiga, terlebih dahulu kita ekuivalenkan gugus-gugus tersebut seperti berikut :
Dimana atom-atom di dalam kurung menyatakan duplikat atau triplikat atom pada ujung ikatan rangkap. Jadi gugus vinil (-CH=CH2) lebih diprioritaskan pada gugus isopropyl (-CH(CH3)2)
1. Sifat-sifat stereoisomer : aktivitas optic
Bidang polarisasi cahaya
Cahaya adalah suatu fenomena elektromagnetik. Suatu berkas cahaya mengandung dua medan getaran yang saling tegak lurus : satu medan getaran listrik dan satu medan getaran magnet. Medan dimana getaran listrik dan magnet terjadi juga tegak lurus terhadap arah rambat cahaya. Getaran medan listrik dimungkinkanterjadi pada semua bidang yang tegak lurus terhadap arah rambat cahaya
Gamabar getaran medan listrik cahaya asli yang terjadi pada semua medan yang tegak lurus terhadap arah rambat cahaya (A) dan bidang polarisasi cahaya
1. Polarimeter
Alat yang digunakan untuk mengukur pengaruh cahaya bidang polarisasi terhadap senyawa yang bersifat aktif optos adalah polimeter. Prinsip kerja bagian-bagian polimeter adalah (1) sumber cahaya (biasanya lampu natrium), (2) polarizer, (3) tabung untuk wadah senyawa aktif optis, (4) analyzer, (5) skala untuk mengukur besarnya derajat pemutaran bidang polarisasi. Polarisasi cahaya searah dengan jarum jam juga dinamakan dextrootatory dan berlawanan dengan arah jarum jam dinamakan levorotatory.
1. Rotasi spesifik
Besarnya derajat pemutaran bidang polarisasi tergantung pada jumlah molekul kiral yang ditemukan cahaya bidang terpolarisasi. Dengan demikian tergantung pada panjang tabung dan konsentrasi larutan enantiomer. Kimiawan menggunakan ukuran pemutaran rotasi standar yang disebut rotasi spesifik [α] dengan rumus :
Dengan [α] = rotasi spesifik
a = rotasi teramati
c = konsentrasi larutan dalam gram per milliliter (atau kerapatan dalam
g/ml untuk cairan murni)
l = panjang tabung dalam desimeter (1 dm = 10 cm)
rotasi spesifik juga tergantung pada temperature dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. Rotasi spesifik dilaporkan sebagai harga yang tak terpisahkan dengan harga-harga tersebut. Rotasi spesifik R-2-butanol dan S-2-butanol dibarikan sebagai berikut :
Gambar rotasi spesifik R-2-butanol dan S-2-butanol
Nilai pada gambar mengandung arti bahwa digunakan garis D lampu natrium sebagai sumnber cahaya, tenperatur 250 C, dan mengandung contoh zat optic 1 g/ml dalam tabung 1 dm, dan menghasilkan rotasi sebesar 3,12 dalam arah searah jarum jam.
Pada contoh tersebut telihat bahwa tidak ada hubungan mutlak antara konfigurasi enantiomer dengan arah rotasi bidang polarisasi cahaya. Namun dapat disimpulkan bahwa jika suatu enantiomer memutar bidang polarosasi cahaya ke kanan maka enantiomer yang merupakan bayangan cerminnya memutar bidang polarisasi cahaya ke kiri.
ü Molekul dengan lebih dari satu karbon kiral
Banyak molekul organic terutama yang mempunyai peranan penting dalam biologi, mengandung lebih dari satu karbon kiral, sebagai contoh adalah kolesterol yang mempunyai 8 kerbon kiral. Untuk mempelajari sifat aktif optic molekul-molekul seperti itu, milai dari molekul yang paling sederhana, yaitu molekul karbohidrat :
Jumlah total stereoisomer yang dapat ada tidak lebih dari 2n dimana n adalah jumlah karbon kiral. Untuk rumus struktur diatas, jumlah stereoisomer yang diharapkan tidak akan lebih dari 4 (22=4)
Oleh karena struktur 1 dan 2 bukan superimposable maka struktur tersebut menyatakan senyawa-senyawa yang berbeda. Karena stuktur 1 dan 2 hanya berbeda susunannya dalam ruang maka struktur itu adalah stereoisomer-stereoisomer. Struktur 1 dan 2 juga merupakan bayangan cermin satu sama lain, maka (1) dan (2) manyatakan enantiomer. Struktur 3 dan 4 juga merupakan enantiomer satu sama lain. Struktur satu sampai 4 semuanya berbeda. Jadi total ada 4 stereoisomer. Struktur yang lain mungkin dapat dibuat tapi struktur itu adalah sama dengan salah satu struktur-struktur diatas (harus diingat bahwa molekul-molekuldapat berputar secara keseluruhan, dan pada temperature kamar, ikatan-ikatan tunggal dapat pula berputar).
Struktur 1 dan 3 bukan merupakan bayangan cermin satu sama lainnya, demikian pula antara struktur 2 dan 4, atau antara struktur 1 dan 4 serta antara struktur 2 dan 3. Hubungan struktur-struktur semacam ini dinyatakan sebagai diastereoisomer-diastereoisomer.
ü Senyawa-senyawa meso
Suatu struktur dengan dua karbon tidak tidak akan selalu memberikan 4 stereoisomer kadang-kadang hanya 3. Kejadian ini disebabkan oleh karena beberapa molekul mempunyai pusat-pusat kiral secara keseluruhan adalah akiral.
Untuk mengerti hal diatas, kita tinjau struktur berikut :
Kita mulai menulis salah satu struktur stereoisomerdengan struktur bayangan cerminnya. Struktur A dan B adalah tidak superimposible dan menyatakan 1 pasang enantiomer.
Jika kita menulis struktur C dengan bayangan cerminnya D seperti berikut maka situasinya berbeda. Dua struktur itu adalah superimposible. Ini berarti bahwa C dan D bukan menyatakan pasangan enantiomer. Rumus C dan D menyatakan dua orientasi yang berbeda dari senya yang sama.
Jika struktur C diputar 1800 dari ujung ke ujung maka diperoleh struktur D. molekul C (atau D) bukan kiral meskipun mengandung karbon kiral. Molekul akiral yang mengandung pusat-pusat kiral disebut senyawa meso. Senyawa meso bersifat tak aktif optic. Kita dengan mudah mengetahui ke-tak-kiralan struktur C (atau D) dengan melihat bahwa molekul tersebut mempunyai bidang simetrik.
ü Tatanama senyawa-senyawa yang mempunyai lebih dari satu karbon kiral
Jika suatu senyawa mempunyai lebih dari 1 karbon kiral, kita dapat menganalisis masing-masing pusat kiralnya secara terpisah, apakah dia R atau S. kemudian tanda tersebut digunakan bersama dengan karbon kiralnya dalam pemberian nama senyawa tersebut. Sebagai contoh salah satu stereoisomer 2,3-butandiol
Atom C-2 dari senyawa diatas berkonfigurasi R dan atom C-3 juga berkonfigurasi R, sehingga nama senyawa tersebut adalah (2R, 3R)-2,3-butandiol.
B. Pemisahan enantiomer-enantiomer(pemisahan campuran resemik)
Pemisahan enantiomer adalah penelitian yang banyak dilakukan dalam analisis kimia, terutama dalam bidang biologi dan farmasi, karena obat kiral diberikan sebagai sebagai salah satu enantiomer atau sebagai campuran rasemat. Sering kali dua enantiomer dari obat rasemat yang sama memiliki efek farmakologi yang berbeda. Sebagai contoh S(+)-Propanolol sangat lebih aktif dari pada enantiomernya. Anastetik ketamin diberikan sebagai campuran rasemat, dan S(+)-ketamin lebih potensi dari pada R(-)-ketamin, disamping itu bentuk R(-)- menyebabkan efek setelah operasi. Karena efek samping yang mungkin disebabkan oleh hadirnya component campuran dalam rasemat obat, sehingga saat ini kecendrungan industry farmasi dalam mempersiapkan obat dalam satu enantiomer saja. Bagaimanapun hasilnya dari beberapa obat melalui reaksi stereoselektif atau proses penyiapan pemisahan enantiomer bisa memberikan bahan yang tidak murni. Jadi diperlukan metode analisis yang sensitif karena daya pemisahan yang tinggi, diperlukan untuk mengontrol proses sintesis senyawa kiral untuk sediaan farmasi.
Satu pendekatan dalam pemisahan enantiomer, kadang-kadang ditunjukkan sebagai pemisahan enantiomer secara tidak langsung, melibatkan penggabungan enantiomer dengan reagen kiral tambahan untuk mengubah molekul tersebut menjadi diastereomer. Senyawa diastrereomer tersebut bisa kemudian dipisahkan dengan beberapa tehnik pemisahan akiral (Davankov V.A.).
Pada saat ini, metode pemisahan secara langsung biasanya dangan cara yang mana enantiomer ditempatkan dalam lingkungan kiral. Sebagai suatu prinsip penggunaan kiral selektor atau kiral irradiasi (misalnya : sinar cahaya terpolarisasi yang mana terdiri dari dua komponen kiral sirkular yang terpolarisasi) bisa membedakan dengan jelas antara dua enantiomer. Kiral selektor bisa merupakan suatu molekul atau permukaan kiral yang cocok. Dalam kaitannya dengan enantioselektif dari interaksi kedua enantimer, kiral selektor mengubah salah satu dari kedua enantiomer dengan kecepatan berbeda menjadi suatu senyawa kimia baru (kinetik enantioselektif) atau membentuk molekul labil pada stabilitas yang berbeda dengan enantiomer tersebut (termodinamika enantioselektif), atau perubahan bentuk L atau D dengan sistem selektif enzimatis (Davankov V.A.), Cara lain yang sering ditempuh para ahli kimia adalah rute biokimia dengan memakai enzim atau mikroorganisme untuk memproduksi enantiomer murni. Sebagai contoh (R)-Nikotina dapat diperoleh dengan cara menginkubasi campuran rasemik (R)-Nikotina dan (S)-Nikotina dalam wadah berisi bakteri Pseudomonas putida. Bakteri tersebut hanya akan mengoksidasi (S)-Nikotina, sedangkan (R)-Nikotina akan tersisa dalam wadah tersebut (Fendy, 2006).
Metode analisis yang mana telah digunakan untuk proses pemisahan komponen senyawa kiral termasuk High Performance Liquid Chromatografi (HPLC), Gas Chromatografi (GC), Thin Layer Chromatografi (TLC) dan saat ini Capilary Electroforesis (CE) yang terutama digunakan untuk analisis dari golongan komponen yang berbeda, termasuk ion organik dan anorganik, peptide, protein, sakarida, obat, isomer optic dan lainnya. Dalam analisis CE proses pemisahan akan tercapai jika analit, di bawah pengaruh pemberian medan listrik, bergerak kearah detektor dengan kecepatan yang berbeda (Fanali S).
Selain metode CE merupakan analisis dengan daya pemisahan dan efisiensi yang tinggi dan dapat dibandingkan dengan metode lainnya, juga memiliki kelebihan lainnya yaitu : (Fanali S)
1. Volume sampel dan buffer yang diperlukan relatif dalam jumlah kecil
2. Kolom kiral yang mahal dapat dihindari karena kiral selektor dapat ditambahkan dengan mudah ke BGE (Background Elektrolyte)
3. Pemisahannya sangat reproduksibel karena buffer dengan kiral selektor dapat diisi ulang saat proses
Beberapa obat yang beredar dalam bentuk campuran rasemik Contohnya adalah: (Tanujaya H dan Melisa,2009)
Proses untuk pemisahan resemik menjadi enantiomer (+) dan (-) dinamakan resolusi. Untuk memisahkan dua enantiomer, maka harus direaksikan dengan pereaksi kiral. Hasilnya merupakan diastereomer dan ini memberikan semua sifat-sifat yang berbeda (sifat ke kiralan dan ke akiralan), sehingga dapat dipisahkan melalui metode-metode yang umum. Prinsip ini dituliskan sebagai berikut :
Sepasang enantiomer pereaksi kiral diastrereomer (dapat dipisahkan)
R R – R
+ R
S S – R
Sebagai contoh kita aakan memisahkan R dan S asam laktat. Kita reaksikan campuran ini dengan basa kiral. Banyak basa semacam ini yang terdapat di alam, seperti striknin dan kuanin. Asam dan basa bereaksi membentuk garam.
( R )-asam (R,S)-garam
+ (S)-basa
(S)-asam (S,S)-garam
Kemudian garam-garam stereoisomer dapat dipisahkan melalui kristalisasi bertahap. Melalui reaksi dengan asam kuat seperti HCl. Garam-garam ini membebaskan enantiomer-enantiomer kembali.
(R,S)-garam + HCl ( R )-asam + (S)-basa H+Cl–
(S,S)-garam + HCl (S)- asam + (S)- basa H+Cl–
Pemisahan natrium amonium tertarat resemik oleh pasteur adalah suatu resolusi campuran tersebut. Adalah suatu gejala yang sangat jarang bahwa enantiomer-enantiomer mengkristal secara terpisah jadi cara pasteur tak dapat dianggap sebagai suatu teknik umum. Karena sepasang enantiomer itu menunjukkan sifat-siat fisika dan kimia yang sama,mereka tak dapat dipisahkan secara fisika atau kimia biasa.. Sebagai gantinya ahli kimia terpaksa mengandalkan regensia kiral atau katalis kiral.
Suatu cara untuk memisahkan suatu resemik atau mengisolasi satu enantiomer murni adalah engan mengolah campuran itu dengan mikroorganisme yang hanya akan mencerna salah satu dari kedua enantiomer itu. Misalnya, (R)nikotina murni dapat diperoleh dari (R)(S)-nikotina dengan mengingkubasi campuran resemil itu dengan bakteri Pseudomonas putida yang mengoksidasi (S)-nikotina tetapi tidak (R)-enantiomer.
Teknik yang sangat umum untuk memisahkan enantiomer ialah mereaksikan mereka dengan suatu reagensia kiral sehingga diperoleh sepasang produk diastereomerik. Ingat diastereomer adalah senyawa yang berlainan dengan sifat fisika yang berlainan. Jadi sepasang diastereomer dapat dipisahkan oleh cara fisika biasa seperti kristalisasi